Selasa, Mei 26, 2009


--------------
Script ini hanya jalan di Internet Explorer
--------------

contoh buka: http://www.ilmuwebsite.com/javascript/hujan-cinta.htm

<html>
<head>
</head>
<body bgcolor="black">

<body>
<!-- file "ani_heart.gif" bisa kamu ganti sendiri terserah -->
<script language="JavaScript1.2">

<!-- Begin
var no = 12; // number of hearts
var speed = 10; // smaller number moves the hearts faster
var heart = "ani_heart.gif";
var flag;
var ns4up = (document.layers) ? 1 : 0;  // browser sniffer
var ie4up = (document.all) ? 1 : 0;

var dx, xp, yp;    // coordinate and position variables
var am, stx, sty;  // amplitude and step variables
var i, doc_width = 800, doc_height = 600;
if (ns4up) {
doc_width = self.innerWidth;
doc_height = self.innerHeight;
} else if (ie4up) {
doc_width = document.body.clientWidth;
doc_height = document.body.clientHeight;
}
dx = new Array();
xp = new Array();
yp = new Array();
amx = new Array();
amy = new Array();
stx = new Array();
sty = new Array();
flag = new Array();
for (i = 0; i < no; ++ i) {
dx[i] = 0;                        // set coordinate variables
xp[i] = Math.random()*(doc_width-30)+10;  // set position variables
yp[i] = Math.random()*doc_height;
amy[i] = 12+ Math.random()*20;         // set amplitude variables
amx[i] = 10+ Math.random()*40;
stx[i] = 0.02 + Math.random()/10; // set step variables
sty[i] = 0.7 + Math.random();     // set step variables
flag[i] = (Math.random()>0.5)?1:0;
if (ns4up) {                      // set layers
if (i == 0) {
document.write("<layer name=\"dot"+ i +"\" left=\"15\" ");
document.write("top=\"15\" visibility=\"show\"><img src=\"");
document.write(heart+ "\" border=\"0\"></layer>");
} else {
document.write("<layer name=\"dot"+ i +"\" left=\"15\" ");
document.write("top=\"15\" visibility=\"show\"><img src=\"");
document.write(heart+ "\" border=\"0\"></layer>");
}
} else
if (ie4up) {
if (i == 0) {
document.write("<div id=\"dot"+ i +"\" style=\"POSITION: ");
document.write("absolute; Z-INDEX: "+ i +"; VISIBILITY: ");
document.write("visible; TOP: 15px; LEFT: 15px;\"><img src=\"");
document.write(heart+ "\" border=\"0\"></div>");
} else {
document.write("<div id=\"dot"+ i +"\" style=\"POSITION: ");
document.write("absolute; Z-INDEX: "+ i +"; VISIBILITY: ");
document.write("visible; TOP: 15px; LEFT: 15px;\"><img src=\"");
document.write(heart+ "\" border=\"0\"></div>");
}
}
}

function snowNS() {  // Netscape main animation function
for (i = 0; i < no; ++ i) {  // iterate for every dot
if (yp[i] > doc_height-50) {
xp[i] = 10+ Math.random()*(doc_width-amx[i]-30);
yp[i] = 0;
flag[i]=(Math.random()<0.5)?1:0;
stx[i] = 0.02 + Math.random()/10;
sty[i] = 0.7 + Math.random();
doc_width = self.innerWidth;
doc_height = self.innerHeight;
}
if (flag[i])
dx[i] += stx[i];
else
dx[i] -= stx[i];
if (Math.abs(dx[i]) > Math.PI) {
yp[i]+=Math.abs(amy[i]*dx[i]);
xp[i]+=amx[i]*dx[i];
dx[i]=0;
flag[i]=!flag[i];
}
document.layers["dot"+i].top = yp[i] + amy[i]*(Math.abs(Math.sin(dx[i])+dx[i]));
document.layers["dot"+i].left = xp[i] + amx[i]*dx[i];

}
setTimeout("snowNS()", speed);
}

function snowIE() {  // IE main animation function
for (i = 0; i < no; ++ i) {  // iterate for every dot
if (yp[i] > doc_height-50) {
xp[i] = 10+ Math.random()*(doc_width-amx[i]-30);
yp[i] = 0;
stx[i] = 0.02 + Math.random()/10;
sty[i] = 0.7 + Math.random();
flag[i]=(Math.random()<0.5)?1:0;
doc_width = document.body.clientWidth;
doc_height = document.body.clientHeight;
}
if (flag[i])
dx[i] += stx[i];
else
dx[i] -= stx[i];
if (Math.abs(dx[i]) > Math.PI) {
yp[i]+=Math.abs(amy[i]*dx[i]);
xp[i]+=amx[i]*dx[i];
dx[i]=0;
flag[i]=!flag[i];
}

document.all["dot"+i].style.pixelTop = yp[i] + amy[i]*(Math.abs(Math.sin(dx[i])+dx[i]));
document.all["dot"+i].style.pixelLeft = xp[i] + amx[i]*dx[i];
}
setTimeout("snowIE()", speed);
}

if (ns4up) {
snowNS();
} else if (ie4up) {
snowIE();
}
// End -->
</script>
</center>
</body>
</html>

Sumber dari situs Ilmu Website dalam kategori javascript dengan judul Hujan Cinta

Read More..

Jumat, Maret 20, 2009

JAKARTA TEMPO DOELOE

Masuk ke kawasan Harmoni, melewati jembatan, pejalan kaki maupun pengendara kendaraan bermotor masih bisa memandang Patung Hermes. Patung itu ada di sisi kiri, dari arah Jalan Hayam Wuruk, dan tentunya di sisi kanan dari arah sebaliknya. Patung yang terbuat dari perunggu ini berbentuk sosok pria dengan kepala dan mata memandang ke atas sementara tangan kanan seperti menunjuk ke langit.


Dalam mitologi Yunani, Dewa Hermes digambarkan sebagai dewa pelindung para pedagang. Bangsa Romawi menamakan Dewa Hermes sebagai Dewa Mercurius. Patung yang sudah puluhan tahun menempel pada jembatan Harmoni itu, sempat raib di seputaran Agustus, nyaris 10 tahun lalu.

Setelah akhirnya ditemukan kembali, Pemprov DKI memutuskan untuk membuat replika patung tersebut. Patung Hermes yang asli, diperkirakan dibuat di tahun 1900-an, kemudian dipasang di halaman dalam Museum Sejarah Jakarta (MSJ) pada tahun 2000. Sebagai atraksi tambahan buat museum ini, tentunya, sedangkan replika patung dipasang di jembatan Harmoni.

Menyebut Harmoni tentu, seharusnya, tak hanya Patung Hermes yang jadi tengara. Di sana pernah berdiri Gedung Harmoni, yang didirikan tahun 1810. Gedung tempat pesta warga Belanda itu dirobohkan pada Maret 24 tahun lalu. Lokasi Gedung Harmonie, begitu tertulis di tembok atas bagian muka gedung itu, dulu ada di pojokan Jalan Veteran dan Jalan Majapahit. Kini lahan bekas gedungitu menjadi bagian dari lahan parkir Sekretariat Negara

Dalam catatan sejarah, gedung Harmoni disebut merupakan tempat berkumpul masyarakat Hindia Belanda. Pendirian gedung itu dipelopori oleh Reinier de Klerk tahun 1776. Bangunan itu berdiri di Jalan Pintu Besar Selatan. Namun karena kawasan itu semakin jorok, oleh Daendels bangunan itu dipindahkan agak lebih ke selatan. Ya di pojok Jalan Veteran dan Jalan Majapahit itulah kemudian bangunan baru didirikan.

Hotel des Indes adalah tengara lain yang menguatkan Harmoni sebagai kawasan yang sibuk. Hotel ini dilibas pembangunan tahun 1971. Hotel yang letaknya tak jauh dari Gedung Harmoni ini ada di Jalan Gajah Mada. Di lokasi ini kemudian berdiri Duta Merlin, pusat belanja.
Hotel des Indes resmi beroperasi pada 1856 di tanah yang masih milik Reiner de Klerk. Sejarah juga merekam, Hotel des Indes bisa disejajarkan dengan Hotel Raffles di Singapura. Jika hotel itu di Singapura masih berdiri kokoh dan menjadi hotel berbintang yang bergengsi, maka Hotel des Indes sudah tak berbekas. Tak ada yang bisa diperlihatkan kepada generasi penerus.

Yang tersisa dari Harmoni hanyalah nama Harmoni itu sendiri. Bangunan bersejarah yang mengitari Societeit de Harmonie lebur bersama tanah di sekitar kawasan itu. Gambar di masa lalu serta sejarah berbagai gedung mewah di abad 19 itu juga sulit ditemukan. Sepotong sejarah pun hilang, setidaknya sejarah bagi penerus bangsa ini.

beberapa gedung tua yg berada di jakarta tempo dulu


Repro/Batavia in Nineteenth Century
Gedung Harmoni
Inilah Gedung Harmoni, didirikan tahun 1810, yang sekarang tidak berbekas tetapi tetap menjadi nama kawasan di Jakarta. Gedung tempat pesta warga Belanda itu dirobohkan pada Maret 24 tahun lalu. Lokasi hotel itu dulu ada di pojokan Jalan Veteran dan Jalan Majapahit. Kini lahan bekas gedung itu menjadi bagian dari lahan parkir Sekretariat Negara


Repro/Batavia in Nineteenth Century
Gerbang Amsterdam
Gerbang Amsterdam merupakan pintu masuk ke Kastil Batavia bagian selatan. Jika dilihat dari Stadhuis, kini Museum Sejarah Jakarta (MSJ), gerbang ini ada di arah utara. Jarak antara gerbang dan Stadhuis sekitar 400 meter.



Repro/Batavia in Nineteenth Century
Hotel des Indes
Hotel des Indes dilihat dari samping (Molenvliet atau sekarang Jalan Gajah Mada ke arah utara). Hotel ini bersama Gedung Harmoni merupakan pusat kegiatan kaum elit penduduk Batavia zaman dulu.

Warta Kota/Pradaningrum
Pelabuhan Sunda Kelapa
Pada tahun 1883 Batavia sudah memiliki dua pelabuhan, yaitu Pelabuhan Batavia atau Sunda Kelapa dan Pelabuhan Tanjungpriok. Pelabuhan Tanjungpriok ini dibangun setelah terusan Suez dibuka pada tahun 1819 sehingga hubungan melal
ui laut semakin ramai dan bongkar muat barang menjadi lebih singkat.



Read More..

Senin, Maret 16, 2009

PLANET X BUKAN PLANET NIBIRU

Bagian luar Tata Surya masih memiliki banyak planet-planet minor yang belum ditemukan. Sejak pencarian Planet X dimulai pada awal abad ke 20, kemungkinan akan adanya planet hipotetis yang mengorbit Matahari di balik Sabuk Kuiper telah membakar teori-teori Kiamat dan spekulasi bahwa Planet X sebenarnya merupakan saudara Matahari kita yang telah lama “hilang”. Tetapi, mengapa kita harus cemas duluan akan Planet X/Teori Kiamat ini? Planet X kan tidak lain hanya merupakan obyek hipotetis yang tidak diketahui?

Teori-teori ini didorong pula dengan adanya ramalan suku Maya akan kiamat dunia pada tahun 2012 (Mayan Prophecy) dan cerita mistis Bangsa Sumeria tentang Planet Nibiru, dan akhirnya kini memanas sebagai “ramalan kiamat” 21 Desember 2012. Namun, bukti-bukti astronomis yang digunakan untuk teori-teori ini benar-benar melenceng.

Pada 18 Juni kemarin, peneliti-peneliti Jepang mengumumkan berita bahwa pencarian teoretis mereka untuk sebuah massa besar di luar Tata Surya kita telah membuahkan hasil. Dari perhitungan mereka, mungkin saja terdapat sebuah planet yang sedikit lebih besar daripada sebuah objek Plutoid atau planet kerdil, tetapi tentu lebih kecil dari Bumi, yang mengorbit Matahari dengan jarak lebih dari 100 SA. Tetapi, sebelum kita terhanyut pada penemuan ini, planet ini bukan Nibiru, dan bukan pula bukti akan berakhirnya dunia ini pada 2012. Penemuan ini adalah penemuan baru dan merupakan perkembangan yang sangat menarik dalam pencarian planet-planet minor di balik Sabuk Kuiper.
Dalam simulasi teoretis, dua orang peneliti Jepang telah menyimpulkan bahwa bagian paling luar dari Tata Surya kita mungkin mengandung planet yang belum ditemukan. Patryk Lykawa dan Tadashi Mukai dari Universitas Kobe telah mempublikasikan paper mereka dalam Astrophysical Journal. Paper mereka menjelaskan tentang planet minor yang mereka yakini berinteraksi dengan Sabuk Kuiper yang misterius itu.

Kuiper Belt Objects (KBOs)






Sedna, salah satu objek di Sabuk Kuipert. Kredit : NASA

Sabuk Kuiper menempati wilayah yang sangat luas di Tata Surya kita, kira-kira 30-50 SA dari Matahari, dan mengandung sejumlah besar objek-objek batuan dan metalik.
Objek terbesar yang diketahui adalah planet kerdil (Plutoid) Eris. Telah lama diketahui, Sabuk Kuiper memiliki karakteristik yang aneh, yang mungkin menandakan keberadaan sebuah benda (planet) besar yang mengorbit Matahari dibalik Sabuk Kuiper.
Salah satu karakterikstik tersebut adalah yang disebut dengan “Kuiper Cliff” atau Jurang Kuiper yang terdapat pada jarak 50 SA. Ini merupakan akhir dari Sabuk Kuiper yang tiba-tiba, dan sangat sedikit objek Sabuk Kuiper yang telah dapat diamati di balik titik ini. Jurang ini tidak dapat dihubungkan terhadap resonansi orbital dengan planet-planet masif seperti Neptunus, dan tampaknya tidak terjadi kesalahan (error) pengamatan. Banyak ahli astronomi percaya bahwa akhir yang tiba-tiba dalam populasi Sabuk Kuiper tersebut dapat disebabkan oleh planet yang belum ditemukan, yang mungkin sebesar Bumi. Objek inilah yang diyakini Lykawka dan Mukai, dan telah mereka perhitungkan keberadaannya.
Para peneliti Jepang ini memprediksikan sebuah objek besar, yang massanya 30-70 % massa Bumi, mengorbit Matahari pada jarak 100-200 SA. Objek ini mungkin juga dapat membantu menjelaskan mengapa sebagian objek Sabuk Kuiper dan objek Trans-Neptunian (TNO) memiliki beberapa karakteristik orbital yang aneh, contohnya Sedna.






Objek-objek trans Neptunian. Kredit : NASA

Sejak ditemukannya Pluto pada tahun 1930, para astronom telah mencari objek lain yang lebih masif, yang dapat menjelaskan gangguan orbital yang diamati pada orbit Neptunus dan Uranus. Pencarian ini dikenal sebagai “Pencarian Planet X”, yang diartikan secara harfiah sebagai “pencarian planet yang belum teridentifikasi”. Pada tahun 1980an gangguan orbital ini dianggap sebagai kesalahan (error) pengamatan. Oleh karena itu, pencarian ilmiah akan Planet X dewasa ini adalah pencarian untuk objek Sabuk Kuiper yang besar, atau pencarian planet minor. Meskipun Planet X mungkin tidak akan sebesar massa Bumi, para peneliti masih akan tetap tertarik untuk mencari objek-objek Kuiper lain, yang mungkin seukuran Plutoid, mungkin juga sedikit lebih besar, tetapi tidak terlalu besar.
“The interesting thing for me is the suggestion of the kinds of very interesting objects that may yet await discovery in the outer solar system. We are still scratching the edges of that region of the solar system, and I expect many surprises await us with the future deeper surveys.” - Mark Sykes, Direktur Planetary Science Institute (PSI) di Arizona.
Planet X Tidaklah Menakutkan
Jadi, dari mana Nibiru ini berasal? Pada tahun 1976, sebuah buku kontroversial berjudul The Twelfth Planet atau Planet Kedua belas ditulis oleh Zecharian Sitchin. Sitchin telah menerjemahkan tulisan-tulisan kuno Sumeria yang berbentuk baji (bentuk tulisan yang diketahui paling kuno). Tulisan berumur 6.000 tahun ini mengungkapkan bahwa ras alien yang dikenal sebagai Anunnaki dari planet yang disebut Nibiru, mendarat di Bumi. Ringkas cerita, Anunnaki memodifikasi gen primata di Bumi untuk menciptakan homo sapiens sebagai budak mereka.
Ketika Anunnaki meninggalkan Bumi, mereka membiarkan kita memerintah Bumi ini hingga saatnya mereka kembali nanti. Semua ini mungkin tampak sedikit fantastis, dan mungkin juga sedikit terlalu detail jika mengingat semua ini merupakan terjemahan harfiah dari suatu tulisan kuno berusia 6.000 tahun. Pekerjaan Sitchin ini telah diabaikan oleh komunitas ilmiah sebagaimana metode interpretasinya dianggap imajinatif. Meskipun demikian, banyak juga yang mendengar Sitchin, dan meyakini bahwa Nibiru (dengan orbitnya yang sangat eksentrik dalam mengelilingi Matahari) akan kembali, mungkin pada tahun 2012 untuk menyebabkan semua kehancuran dan terror-teror di Bumi ini. Dari “penemuan” astronomis yang meragukan inilah hipotesis Kiamat 2012 Planet X didasarkan. Lalu, bagaimanakah Planet X dianggap sebagai perwujudan dari Nibiru?
Kemudian terdapat juga “penemuan katai coklat di luar Tata Surya kita” dari IRAS pada tahun 1984 dan “pengumuman NASA akan planet bermassa 4-8 massa Bumi yang sedang menuju Bumi” pada tahun 1933. Para pendukung hipotesis kiamat ini bergantung pada penemuan astronomis tersebut, sebagai bukti bahwa Nibiru sebenarnya adalah Planet X yang telah lama dicari para astronom selama abad ini. Tidak hanya itu, dengan memanipulasi fakta-fakta tentang penelitian-penelitian ilmiah, mereka “membuktikan” bahwa Nibiru sedang menuju kita (Bumi), dan pada tahun 2012, benda masif ini akan memasuki bagian dalam Tata Surya kita, menyebabkan gangguan gravitasi.
Dalam pendefinisian yang paling murni, Planet X adalah planet yang belum diketahui, yang mungkin secara teoretis mengorbit Matahari jauh di balik Sabuk Kuiper. Jika penemuan beberapa hari lalu memang akhirnya mengarah pada pengamatan sebuah planet atau Plutoid, maka hal ini akan menjadi penemuan luar biasa yang membantu kita memahami evolusi dan karakteristik misterius bagian luar Tata Surya kita.

Read More..